www.NaizalNorewan.com2

Naizal Norewan World Wide

Berita Pendidikan dari Jambi Ekspres

Peran Komunikasi Pendidikan Orang Tua dalam Lingkungan Keluarga
Monday, 04 August 2008

Doni Saputra, S.Pd

Alumni Universitas Jambi tahun 2006 ini, sekarang menjabat Waka Kesiswaan di SDIT Al-Azhar Jambi. Alamat Jalan Bakaruddin RT l1 No. 25 Kecamatan Telanaipura.

Di zaman modern saat ini banyak sekali masalah-masalah yang sering timbul baik itu dalam lingkungan masyarakat, lingkungan kerja dan lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga, sebagian orang tua lebih mempercayakan pendidikan anaknya pada sekolah yang ditunjuk untuk memberikan pendidikan pada anaknya. Sementara orang tua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Orang tua menganggap tugasnya hanyalah memberikan fasilitas dan prioritas saja pada anaknya, sementara anak juga membutuhkan perhatian, kasih sayang, pengarahan, teguran, dan perlindungan.

            Dengan adanya masalah ini, pada diri anak akan timbul pertentangan yang dialamatkan untuk keluarga terutama pada orang tua. Anak beranggapan bahwa norma yang ada dan berlaku dalam keluarga sudah kurang cocok lagi bagi anak. Untuk itu anak akan mencari di luar rumah dan menemukan di kelompok-kelompok pergaulanya. Kelompok itu terjalin dari remaja sebaya yang memiliki masalah yang hampir sama. Akhirnya anak membentuk norma-norma yang baru untuk dijadikan panutan baru.  Sehingga terjadilah kenakalan remaja seperti membolos dari sekolah, tawuran, pelanggaran berbagai aturan, misalnya peratuaran tata tertib sekolah, peraturan lalu lintas dan penyalah guanaan obat-obatan.

            Masalah yang sering timbul dalam kerenggangan hubungan antara orang tua dan anaknya. Seperti contoh, orang tua menganggap dirinya paling benar dan mendasarkan dirinya pada kebijaksanaan pragmatis dan didasarkan pada pengalaman mereka. Sedangkan anak hidup dan bertingkah laku sesuai idealisme yang dinamis dan bersifaat kekinian. Keduanya sukar dipertemukan dalam suatu pengertian. Padahal mereka hidup secara berdampingan.

            Kesenjangan komunikasi yang terjadi antara orang tua dengan anak selayaknya tidak terjadi jika masing-masing pihak terutama orang tua menyadari akan keberadaan dan fungsinya. Dengan demikian jika antara orang tua dan anak terjalin komunikasi, saling pengertian dan lainya maka kesenjangan komunikasi tidak terjadi.

            Menurut Ratna megawani (dalam Manajemen Qolbu), bahwa semua anak yang merasa diabaikan oleh orang tuanya akan mengalami rasa tertekan dan minder. Perasaan ini akhirnya menyebabkan turunnya dorongan bagi anak untuk mencapai hasil yang baik di sekolah. Dalam masalah hasil belajar anak, yaitu nilai yang diperoleh anak di sekolah adalah juga menjadi masalah dalam keluarga yakni orang tua, nilai anak yang rendah akan menyebabkan orang tua khawatir pada nilai rapor. Apakah nantinya anak dapat melanjutkan sekolah yang lebih baik atau tidak.

            Beberapa hal yang sangat berpengaruh pada anak dalam lingkungan keluarga

            1. Fungsi Kelurga

            Keluarga pada hakekatnya adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri dan anak. Dalam peraturan pemerintah RI No.21 Tahun 2001 tentang penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera, BAB 1 pasal 1 dan 2, disebutkan bahwa: Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan fungsi keluarga itu sendiri berkaitan langsung dengan aspek-aspek keagamaan, budaya, cinta kasih, reproduksi, sosialisasi, pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan.

            Kehadiran anak disisi orang tua tidak harus membuat orang tua terbuai dalam kebanggaan. Bangga terhadap anak boleh saja asalkan dalam batas yang wajar, karena tugas lain seperti mendidik anak masih banyak. Mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua. Kalaupun tugas mendidik anak dilimpahkan kepada sekolah, tetapi tugas guru hanya sebatas membantu orang tua dan bukan mengambil alih tanggung jawab orang tua secarah penuh. Oleh karena itu, menyerahkan sepenuhnya tugas mendidik anak kepada guru sama halnya melepaskan tanggung jawab. Figur seperti ini merupakan salah satu ciri orang tua yang tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.

           

            2. Komunikasi dalam keluarga

            Dalam lingkungan keluarga, komunikasi dapat berlangsung setiap saat, dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan dengan siapa saja. Semenjak lahir semua individu sudah melakukan hubungan dengan masyarakat sekitarnya. Kelompok pertama yang dialami individu dari semenjak lahir adalah keluarga. Hubungan yang dilakukan oleh individu itu antara lain dengan ibunya, bapaknya dan anggota keluarga lainnya, makin bertambah umurnya, makin luas pula hubungan yang dapat dijangkau oleh individu. Hubungan sangat penting dalam rangka pembinaan kepribadian dan pengembangan bakat seseorang. Bakat memerlukan dorongan, pendidikan, pengajaran, serta latihan dan kesemuanya itu membutuhkan hubungan yang baik dengan semua pihak.

            Komunikasi yang berlangsung dalam keluaraga tidak sama dengan komunikasi yang terjadi di pasar. Seperti masyarakat yang melakukan transaksi jual beli dengan tujuan masing-masing. Mereka melakukan transaksi tanpa melakukan perubahan sama sekali terhadap sikap dan prilaku, karena bukan itu tujuan mereka. Lain hal nya komunikasi yang dilakukan dalam keluarga, karena tanggung jawab orang tua adalah mendidik anak, maka komunikasai yang berlangsung dalam keluarga mempunya nilai pendidikan. Dan komunikasi itu ada sejumlah norma yang ingin diwariskan orang tua kepada anaknya, dengan pengandalan pendidikan norma-norma itu misalnya: norma agama, norma akhlak,  norma sosial, norma etika dan norma moral

            Dalam kehidupan keluarga, komunikasi dapat berlangsung dari kegiatan berbicara, berdialog, bertukar pikiran dan sebagainya. Akibatnya kerawanan hubungan antara anggota keluargapun sukar untuk dihindari. Oleh karena itu komunikasi antara suami dan istri, komunikasi antara ayah dan ibu, ayah dan anak perlu dibangun secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga.

            Menurut teori Djamarah; bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi dalam keluarga adalah: Citra diri atau merasa diri. Maksudnya, ketika orang berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, dia mempunyai citra diri, merasa dirinya sebagai apa dan bagaimana. Suasana Psikologis, diakui mempengaruhi komunikasi, misalkan komunikasi akan sulit berlangsung jika seseorang dalam keadaan sedih, binggung, marah, merasa kecewa, merasa iri hati, diliputi prasangka yang buruk.

            Lingkungan Fisik. Keadaan ketika berkomunikasi yang berlangsung di sekolah dan di rumah sangat berbeda karena suasana di rumah bersifat informal dan sekolah bersifat formal. Kepemimpinan. Peran seorang ayah sebagai pemimpin dan ibu sebagai pendamping diharapkan seiya sekata dalam mengambil keputusan terutama masalah pendidikan anak. Bahasa. Peran bahasa dalam komunikasi keluarga sangat berpengaruh sekali baik itu komunikasi Verbal (lisan/kata) dan Non Verbal (dengan cara sapaan/rangkulan)

 

            3. Konsep Keluarga

            Antara keluarga dan pendidikan adalah 2 istilah yang tidak bisa dipisahkan, sebab dimana ada keluarga di situ ada pendidikan, dimana ada orang tua di situ ada anak. Pendidikan jika ditelusuri lebih jauh adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan.

            Konsep keluarga dapat ditinjau dari berbagai aspek berdasarkan hubungan darah. Keluarga adalah satu kesatuaan yang diikat oleh hubungan darah antara yang satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hubungan sosial, keluarga adalah satu kesatuan yang mengikat oleh adanya saling berhubungan atau interaksi dan saling mempengaruhi.

            Interaksi yang terjadi dalam keluaraga tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi karena ada tujuan atau kebutuhan bersama antara ayah, ibu dan anak. Adanya tujuan tertentu yang dicapai atau kebutuhan yang berbeda menyebabkan hubungan dan berinteraksi tidak terlepas dari kegiatan komunikasi antara orang tua dan anak, karena itulah komunikasi yang pasti berlangsung dalam kehidupan keluarga.

            Komunikasi dalam keluarga dapat berlansung secara vartikal dan horizontal. Untuk terjadinya hubungan baik, tentu saja banyak faktor lain yang mempengaruhinya, misalnya faktor pendidikan, kasih sayang, profesi, pemahaman terhadap norma agama, dan mobilitas orang tua. Hubungan yang baik antara orang tua dengan anak tidak hanya diukur dengan pemenuhan materil saja, tetapi kebutuhan mental spritual merupakan kebutuhan keberhasilan dalam menciptakan hubungan tersebut.

            Masalah kasih sayang yang diberikan orang tua pada anaknya merupakan faktor yang sangat penting dalam keluarga. Tidak terpenuhinya kebutuhan kasih sayang dan sering orang tua tidak berada dirumah menyebabkan hubungan dengan anak kurang baik. Orang tua sebagai pemimpin adalah faktor penentu dalam menciptakan hubungan keakraban dalam keluarga. Persoalan muncul ketika kepemimpinan yang diterapkan oleh orang tua tidak mampu menciptakan suasana kehidupan yang kondusif. Misalnya sering terjadi konflik antara orang tua dengan anak.

            Kegagalan orang tua dalam mendidik anak yang selama ini terjadi bukan tidak mungkin disebabkan komunikasi yang dibangun beralaskan kesenjangan tanpa memperhatikan etika komunikasi. Padahal etika komunikasi sangat penting dalam rangka mengakrabkan hubungan keluarga orang tua dan anak. Komunikasi yang bagaimanapun bentuknya harus memperhatikan etika komunikasinya. Sebab hanya dengan memperhatikan etika komunikasi, dapat dibangun pendidikan anak dalam keluarga.***


::: KLINIK PENDIDIKAN :::

Prof. Sutrisno, M.Sc., Ph.D

Konsultan Pendidikan

 

Persoalan relevansi pendidikan 

Kegayutan antara tuntutan dunia kerja dengan kualitas lulusan menjadi persoalan yang serius dalam dunia pendidikan untuk dicermati. Kurang terserapnya lulusan sekolah ke dunia kerja  dapat dijadikan indikator terjadinya mismatch (kekurang cocokan) antara realitas kerja dengan out put pendidikan. Persoalan  inilah menyangkut relevansi pendidikan.

 

Pertanyaan:

            Pak, masalah pendidikan kita sangat kompleks, bahkan semua unsur-unsur terkait pendidikan belum terpenuhi susuai dengan standar minimal pendidikan. Bagaimana kiranya kita dapat memetakkan persoalan tersebut?  (pertanyaan, Agus Topo S, SPd, MM, Stiteknas, Jambi)

 

Jawab:

            Persoalan relevansi pendidikan

            Menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan tuntutan kerja bukanlah pekerjaan mudah. Yang sering terjadi dari waktu ke waktu adalah kekurangsingkronan antara tuntutan dengan lulusan yang dihasilkan. Efisiensi penyelenggaraan pendidikan dan penyediaan tenaga pendidikan berkualitas secara memadai demi sebuah tuntutan kerja yang kian menggelobal.

            Pada intinya, pendidikan kita dituntut lulusannya sesuai dengan dunia kerja dalam konteks kebutuhan lokal, nasional, regional dan global serta berupaya untuk mereduksi mismatch dunia pendidikan dengan dunia kerja yang ada. Disinilah, inovasi pendidikan dibutuhkan.

            Khusus pada perluasan kesempatan masuk PT antar kawasan di Indonesia dikaitkan dengan minat untuk memasukinya, kebutuhan SDM, dan dapat menjaga heterogenitas kita. Dengan meratanya SDM di negara kita dapat mengurangi ketimpangan ketenagaan yang selama ini terus berlangsung.

            Sementara itu, pada jenjang pendidikan tinggi, persoalan yang paling pelik dalam konteks perluasan akses adalah peningkatan relevansi dan  kualifikasi guru sekolah dasar dalam memenuhi tuntutan undang-undang. Kebijakannya masih tambal sulam. Guru SD dituntut untuk berkualifikasi S-1 sebagai guru kelas bukan guru bidang studi. Program UT telah berjalan, namun efektifitasnya masih perlu dipertanyakan. LPTK yang ada belum semuanya mendapatkan mandat untuk menyelenggarakan program PGSD.

 

December 4, 2008 - Posted by | Petikan Website

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: